Just another WordPress.com weblog

ANALISA KASUS SUSNO DUADJI DARI SEGI MANUSIA DAN KEADILAN

Susno Duadji mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Markas Besar Kepolisian RI. Bila kita mengenal nama Susno Duadji kita pasti ingat kisah Cicak dan Buaya yang belum lama kita lihat dari sebuah kasus Bank Centrury. Nah dari kisah itu saya berusaha untuk menganalisa kisah kasus Susno Duadji yang kini menjadi Tahanan Polisi. Susno merupakan orang yang dikaitkan KPK tentang kasus Bank CENTURY sehingga pada waktu itu dia dijadikan tersangka oleh KPK dan Dipanggil oleh DPR untuk dimintai suatu pertanyaan, dari situ kita menengar kata cicak dan buaya dan menjadi berita hangat dikalangan masyarakat indonesia.

Susno Duadji  dan Makelar Kasus di Kepolisian

Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji tengah memegang sapu untuk membersihkan pungli di lingkungan Kepolisian Daerah Jawa Barat masih terpampang di ruang tamu rumahnya. Namun entah mengapa si pemilik sapu ini baru berusaha membersihkan pungli dan makelar kasus justru setelah tak lagi menjabat tidak seperti yang digambarkan dalam karikatur hadiah dan penghargaan sejumlah wartawan di Jawa Barat.

Itulah mantan Kabareskrim Komjen Polisi Susno Duadji yang kembali membuka aib institusinya sendiri dengan mengungkap adanya jenderal yang berrperan sebagai makelar kasus (markus) di Institusi Polri. Adanya jenderal markus tersebut dikaitkan dengan kasus korupsi dan pencucian uang senilai Rp 25 miliar dengan tersangka pegawai pajak Gayus T. Tambunan. Diduga, kasus ini mandek akibat ulah jenderal markus.

Kepada wartawan Susno menduga uang itu telah dibagi-bagikan kepada beberapa penyidik dan beberapa jenderal di Polri. Tak hanya itu Susno bahkan berani menyebutkan inisial penyidik tersebut. Mereka itu adalah Brigadir Jendral EL, Brigjen RE yang menggantikan EL, AKBP M, dan Kompol A.

Sontak tudingan Susno ini membuat Brigjen Radja Erizman dan Brigjen Edmon Ilyas, dua jenderal yang dituduh sebagai jenderal markus, membantah keras tudingan tersebut. Keduanya menuding balik Susno dengan mengatakan bahwa mereka juga memiliki bukti keterlibatan Susno dengan mafia kasus saat masih menjabat sebagai Kabareskrim. Tidak hanya itu keduanya bahkan melaporkan mantan Kapolda Jabar ini Ke Bareskrim Polri dengan tuduhan mencemarkan nama baik.

Ulah Susno ini membuat gerah Mabes Polri, yang segera menggelar jumpa pers dan lagi-lagi membantah tudingan Susno soal ada markus dalam pengangan kasus korupsi Pajak Rp. 25 M.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Edward Aritonang menegaskan kepada wartawan tidak ada kantor makelar kasus di antara ruang Kapolri dan Wakapolri. Edward juga menambahkan hingga saat ini tidak ada penyimpangan dalam penangan kasus di Mabes Polri.

Senin (22/3), Propam akan memanggil mantan Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ini untuk diperiksa. Polemik terbuka antara Susno dengan jenderal Polri lainnya ini, secara langsung atau tidak langsung memberikan informasi lebih dalam mengenai borok ditubug Polri.

Bantah-membantah dan persaingan tidak sehat di antara para jenderal Polri sepertinya tidak lagi dapat dikontrol oleh Kapolri, sebagai pimpinan tertinggi Polri. Publik melihat ada kesan mengaburkan persoalan utama, yakni dugaan makelar kasus (markus) di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, (Mabes Polri). Perseteruan Susno Duaji, Mabes Polri dan dua perwira tinggi secara kasat mata menggambarkan ada masalah di tubuh Polri.

Kepala PPATK Yunus Husein mengakui telah memberikan laporan keuangan senilai Rp 25 miliar kepada bekas Kabareskrim Komisaris Jenderal Susno Duadji. Penelusuran dana senilai Rp 25 miliar oleh PPATK berdasar petunjuk jaksa pada November lalu. Namun Yunus tidak mengetahui ada tidaknya keterlibatan mafia dalam aliran dana itu. Dengan alasan PPATK tidak bisa menentukan apakah aliran dana itu merupakan korupsi, pencucian uang, atau suap, karena hal itu adalah kewenangan penyidik.

Tudingan yang disampaikan, mantan Wakil Kepala PPATK bidang hukum dan kepatuhan ini tentunya bukan main-main. Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana mengakui laporan susno kepada pihaknya dsertai sejumlah dokumen.

Usai memanggil dan mendengarkan laporan Susno Duadji, Satgas langsung meminta penegak hukum menindaklanjuti laporan ini. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum juga akan mendalami laporan  ini, dengan menemui Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, dan meminta KPK mengusut kasus ini.

Bola kini di tangan Satgas dan KPK, apakah berani membuktikan adanya makelar kasus (markus) di korps kepolisian? Publik tidak berharap kasus ini diselesaikan oleh internal Polri lewat institusi Propam. Tekad pemerintah untuk memberantas mafia hukum seperti tekad Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat ujian dari institusi penegak hukum sendiri.

Maka daripada itu kenapa Pemerintah Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela Susno yang kini menjadi tahanan, padahal dia adalah salah satu putra bangsa yang berani mengungkap borok-borok di departementnya sendiri terutama Kepolisian. Apakah Negara kita ini inigin benar-benar bersih dari korupsi? Jawabannya kita Tanya pada diri kita dan perintah itu sendiri.

Demikian analisa saya tentang Mantan Bareskrim Susno Duadji yang kini menjadi tahan dan sedang mencari suatu keadilan dari pemerintah. Maju terus Susno kami masyarakat akan tetap mendukungmu dalam pengahapusan korupsi di Indonesia. Sehingga pembangunan di Negara kita akan merata dan maju diberbagi bidang, dan anak-anak cucu kita dapat menikmati hasil dari pembangunan tersebut

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: